Rabu, 02 Desember 2009

PKS Kandidat Kuat Pemenang Pemilu 2014

JAKARTA - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berpotensi menjadi partai pemenang pemilu 2014. Itu karena partai ini memiliki banyak kelebihan yang tak dimiliki partai lain.

Di antaranya, ideologi jelas, mesin partai baik karena memiliki kader yang solid dan loyal, serta mengusung isu yang diterima baik oleh masyarakat yaitu bersih dari korupsi.

Demikian kesimpulan yang mengemuka dalam diskusi bertema Meramal Nasib PKS di Pemilu 2014 Melalui "Terawangan" Pimpinan Media Massa di Hotel Atlet Century Park Jakarta. Hadir sebagai pembicara Arifin Asydhad (detik.com), Eddy Koko (Trijaya FM), Rikard Bagun (Kompas), Herry Mohammad (Gatra) dan Alfito Deanova (TV One).

Untuk menjadi partai besar, para pembicara sepakat PKS harus tetap konsisten menjaga garis ideologinya. Kesan perpecahan yang timbul akibat pernyataan pimpinan yang berbeda-beda kepada media harus dihindarkan.

Demikian juga dengan pembentukan citra bersih. Alfito Deanova menyoroti skandal korupsi di DPR yang menyeret nama kader PKS Rama Pratama meskipun kemudian tidak terbukti. Menurutnya, isu itu sangat merugikan PKS Sehingga banyak kader loyal yang keluar karena beranggapan PKS sekarang tidak seideal tahun 1999 dan 2004 lalu.

Dan yang tak kalah penting adalah menyiapkan sosok atau tokoh partai guna menghadapi pemilihan presiden 2014. PKS dinilai lemah dalam hal menampilkan tokoh. Mereka tak memiliki tokoh sekaliber Susilo Bambang Yudhoyono atau Megawati Soekarnoputri. "Perlu pencarian ke depan siapakah yang bertarung di 2014," kata Rikard Bagun.

Apalagi, sambung Bagun, posisi Megawati pada pemilu 2014 sudah akan diganti oleh penerusnya. Sementara, Yudhoyono tak bisa mencalonkan diri lagi menjadi presiden karena dibatasi konstitusi.

Menanggapi hal tersebut, Presiden PKS Tifatul Sembiring mengakui sejak 1999 sampai 2009 partainya terlalu fokus terhadap penguatan sistem. "Ke depan tokoh harus kita create," katanya.

Ketiadaan tokoh besar, kata Tifatul, turut mengakibatkan perolehan suara partainya pada Pemilu 2009 lalu stagnan. "Saya akui, 24 persen lari ke Partai Demokrat, 70 persen tetap. Tambahan dari partai-partai Islam yang merosot," ujarnya.

Sumber: PKS Kandidat Kuat Pemenang Pemilu 2014

Senin, 23 November 2009

Apple: Rokok Bisa Merusak Laptop

SAN FRANSISCO - Apple mengeluarkan pernyataan bahwa rokok tak hanya merusak kesehatan tetapi juga buruk untuk perangkat komputer Apple.

Sebuah blog bernama Comsumerist yang mendata perilaku dan keluhan konsumen di AS melaporkan bahwa Apple telah menolak memperbaiki dua unit laptop Apple dikarenakan perangkat tersebut terkontaminasi oleh asap rokok.

"Dua konsumen yang berasal dari dua negara berbeda itu mengklaim garansi Applecare mereka hangus karena perangkat mereka rusak akibat asap rokok," kata juru bicara Comsumerist seperti dikutip dari Pocket-Lint, Senin (23/11/2009).

Apple membalas surat keluhan kedua pemilik laptop tersebut dan menyebutkan bahwa asap rokok menghanguskan garansi laptop mereka. Apple mengategorikan perangkat elektronik yag terkontaminasi zat atau asap berbahaya sebagai kerusakan akibat pencemaran bio-hazard. Sayangnya, konsumen Apple tidak mendapatkan garansi atas kasus kerusakan perangkat akibat bio-hazard.

Menurut ahli, asap rokok dapat merusak perangkat laptop karena kandungan tar pada rokok menempel dan menebal hingga menutupi laptop. Perangkat elektronik bersifat panas dan secara alami akan menarik debu dan kotoran yang ada di sekitarnya. Sementara itu, asap rokok merupakan jenis asap yang paling buruk dan sangat membahayakan karena sifatnya yang basah.

Asap rokok yang menempel dan menutupi perangkat elektronik akan membawa kelembaban pada perangkat yang sedang mengalami panas.

Untuk mencegah hal tersebut, Apple menyarankan untuk menggunakan air compress, kain katun dan alkohol 70 atau 90 persen saat membersihkan perangkat komputer.

Sumber: Apple: Rokok Bisa Merusak Laptop

Sabtu, 21 November 2009

Sidang Rakyat di Dunia Maya

Perseteruan antara KPK dan Polri yang terus menjadi headline media massa di tanah air disebut banyak pihak sebagai gambaran riil tentang bobroknya sistem hukum yang berlaku di negeri ini. Kasus ini menyebabkan konflik yang semakin melebar dan melibatkan pihak yang semakin banyak. Pihak-pihak yang berseteru tidak lagi hanya KPK dan Polri, tapi kini melibatkan pihak Kejaksaan Agung, Anggota Komisi III DPR RI, Tim 8, dan berbagai pihak lainnya.

Tudingan kriminalisasi terhadap dua pimpinan KPK nonaktif, Chandra M. Hamzah dan Bibit Samad Riyanto pun semakin kentara seiring dengan terkuaknya isi rekaman suara yang telah diperdengarkan oleh Mahkamah Konstitusi kepada publik.

Konflik tersebut semakin membuka mata banyak pihak tentang konspirasi besar dan terencana para mafia hukum dan pengadilan yang berusaha untuk mematikan langkah KPK sebagai lembaga yang bertugas memberangus korupsi di Indonesia.

Efek yang terjadi kemudian adalah kemarahan masyarakat terhadap para wakilnya yang duduk di Komisi III DPR RI yang sangat ‘bernafsu’ mendukung Polri dan Kejaksaan Agung untuk meneruskan perkara ini, meski Tim 8 yang dibentuk oleh Presiden SBY telah menyatakan bahwa bukti yang disodorkan polisi tidak cukup. Masyarakat menganggap wakil mereka di Komisi III bersikap acuh dan telah mengkhianati aspirasi mereka untuk menghentikan kriminalisasi kepada Chanda – Bibit. Seperti kita ketahui, kasus KPK vs Polri yang berlarut-larut dan pengusutannya yang terkesan tidak transparan membuat masyarakat mengambil jalan protes melalui media social networking yang saat ini sedang in.

Ungkapan kekecewaan tersebut mengemuka pada situs jejaring sosial facebook yang sedang ngetop. Lewat grup “Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto”, masyarakat yang merasa simpati dengan kondisi yang menimpa Chandra – Bibit ‘berkumpul’ untuk menyatakan dukungannya. Hingga Selasa (17/11), grup tersebut telah berhasil menjaring 1,3 juta dukungan. Angka tersebut setara dengan 11% dari total pengguna facebook di tanah air, yang menurut situs checkfacebook berjumlah 11,8 juta pengguna. Kehadiran ‘sidang rakyat’ di dunia maya ini seakan untuk menyindir sikap pasif anggota dewan ‘yang sebenarnya’.

Pemanfaatan situs jejaring sosial sebagai alternatif baru penyaluran aspirasi masyarakat menjadi menarik untuk disimak. Kita ketahui bersama bahwa selama ini facebook terkenal sebagai ajang bernarsis ria bagi para pemiliknya, sehingga melihat jumlah dukungan yang begitu besar pada grup tersebut rasanya kita perlu mengoreksi pendapat tersebut. Karena ternyata para facebooker masih memiliki concern terhadap masalah serius di negeri ini, meski cukup banyak yang menilai sebagian besar anggota grup tersebut hanya ikut-ikutan dan tidak mengerti permasalahan yang terjadi secara mendalam.

Untuk meng-counter pendapat tersebut, memang diperlukan edukasi lebih lanjut dan penyebaran informasi secara lengkap tentang kronologis kasus yang sedang terjadi. Hal ini penting agar masyarakat (baca: facebookers) yang ikut-ikutan mendapatkan pemahaman dan memiliki informasi yang cukup serta memiliki alasan yang jelas saat mengambil sikap untuk bergabung dalam parlemen online tersebut.

Sabtu, 24 Oktober 2009

Ibu Bekerja, Pola Hidup Anak Cenderung Tidak Sehat

London - Anak-anak yang memiliki ibu yang bekerja ternyata lebih sedikit mengonsumsi makanan sehat ketimbang anak yang ibunya tinggal di rumah. Sebuah studi di Inggris menemukan fakta tersebut.

Penelitian yang dilakukan The UK Millennium Cohort Study ini melihat kebiasaan makan dan aktivitas fisik lebih dari 12.500 anak-anak yang berusia 9 bulan hingga 5 tahun.

Terlepas dari asal etnis, tingkat pendidikan dan pekerjaan ibu, peneliti menemukan anak-anak yang ibunya bekerja paruh waktu atau penuh lebih sedikit mengonsumsi buah-buahan atau sayuran ketika makan atau ngemil.

Anak-anak yang ibunya bekerja lebih banyak duduk di depan televisi dan komputer lebih dari 2 jam sehari. Sementara anak-anak yang ibunya tidak bekerja berada di depan TV dan komputer kurang dari 2 jam.

Anak-anak yang ibunya bekerja lebih sering minum minuman manis seperti soda di antara waktu makannya, menyukai camilan keripik dan lebih senang diantar sekolah dengan mobil ketimbang berjalan kaki atau bersepeda.

"Waktu menjadi kendala bagi ibu yang bekerja untuk memberikan anak-anaknya makanan sehat dan mengawal anak melakukan aktivitas fisik," jelas penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Epidemiology and Community Health seperti dilansir dari Chinadaily, Sabtu (3/10/2009).

Penelitian juga menunjukkan kebiasaan anak-anak secara keseluruhan adalah 37 persen anak-anak suka makan keripik atau permen, 41 persen gemar minuman manis di waktu makan, 61 persen menghabiskan minimal 2 jam setiap hari duduk di depan TV dan komputer.

Tapi peneliti menegaskan hasil kajian ini bukan berarti ibu tidak boleh bekerja tetapi mengingatkan perlunya tindakan dari orangtua dan anak untuk mendukung hidup yang lebih sehat. 

Sumber: Ibu Bekerja, Pola Hidup Anak Cenderung Tidak Sehat

Mencerdaskan Anak, Ayah Pun Bisa Ikut Berperan

PERAN pendidikan bagi anak, tak melulu menjadi tanggung jawab sang ibu. Ayah pun sebaiknya terlibat aktif dalam pendidikan si kecil. Selami kemampuan anak sebelum mulai mendidik si buah hati.

Dalam masa pertumbuhan, orangtua mengambil peran yang sangat penting dalam mendidik anak. Nah, sebenarnya peran pendidikan ini tanggung jawab siapa? Tak harus ibu, ayah pun harus ikut berperan mendidik dan mencerdaskan buah hatinya.

"Anandi kalau belajar maunya sama saya, padahal kan ngajarin anak belajar itu tugas ayahnya, saya mah gak bisa, gak sabaran," ucap Ela Hartani, seorang ibu rumah tangga yang sedang menceritakan pola pengasuhan anak kepada temannya saat arisan, beberapa waktu lalu.

Psikolog anak Roslina Verauli MPsi menyebutkan, peran orangtua dalam pengasuhan anak kerap mengalami perubahan seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan anak.

"Itu sebabnya, orangtua diharapkan mampu memahami tugas-tugas perkembangan anak untuk setiap tahap tumbuh kembangnya," tuturnya saat acara yang diadakan Frisian Flag dengan tema "Smart Parents Confrence" di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Untuk menciptakan anak yang cerdas, orangtua harus terlebih dahulu memahami apa yang dimaksud dengan kecerdasan dan kemudian memahami perkembangan kognitif pada anak. Dengan demikian, orangtua khususnya ayah juga diharapkan menjadi fasilitator perkembangan anaknya.

Mengacu pada pakar psikologi perkembangan terkenal asal Swiss, Jean Piaget, Roslina menjelaskan, anak perlu melakukan aksi tertentu atas lingkungannya untuk dapat mengembangkan cara pandang yang kompleks dan cerdas atas setiap pengalamannya.

Dan sudah menjadi tugas orangtua untuk memberi anak pengalaman yang dibutuhkan anak agar mereka berkembang kecerdasannya. Setiap orangtua memiliki peranan yang besar bagi anak. Selama ini yang diketahui orangtua pada umumnya adalah peran mereka sebatas membesarkan dan melindungi anak agar kelak menjadi individu yang mandiri dan kompeten. Namun, seperti apa proses membesarkan anak, kerap menjadi tanda tanya.

"Yang dipikirkan orangtua adalah bagaimana mereka membesarkan anak dan menjadikannya sebagai individu yang mandiri dan berkualitas," ucap psikolog yang akrab disapa Vera ini.

Hal tersebut dapat dimaklumkan karena setiap orangtua membawa sejumlah kualitas pribadi dan berbagai kebutuhan yang kompleks dalam peranannya sebagai orangtua.

Sama halnya seperti anak, orangtua juga memiliki jenis kelamin dan temperamen yang berbeda sehingga turut memberikan cara-cara yang berbeda dalam pengasuhan.

"Bahkan lebih jauh, orangtua membawa serta pengalaman masa lalunya terdahulu saat diasuh orangtuanya semasa ia kecil, dan sejumlah nilai budaya yang membentuk apa yang mereka lakukan saat ini," papar Vera.

Selain itu, orangtua juga memiliki pola-pola kehidupan sosial, seperti hubungan bersama pasangan, keluarga besar, dan dunia kerja. Pola kehidupan sosial itulah yang secara otomatis dibawa dalam pengasuhan anak.

"Ini bukan hanya tugas ibu, tetapi kedua orangtua dalam membesarkan anak," tandasnya.

Mengingat peran jenis kelamin turut memengaruhi pola pengasuhan, dikatakan Vera, banyak sekali pertanyaan yang terlontar, apakah ayah dan ibu memiliki peran-peran yang berbeda dalam pengasuhan?

"Secara umum, ayah dan ibu memiliki peran yang sama dalam pengasuhan anak-anaknya. Namun, ada sedikit perbedaan sentuhan dari apa yang ditampilkan ayah dan ibu," ujar psikolog yang berpraktik di Empati Development Center.

Dalam menjadikan anak yang cerdas, harus diketahui terlebih dahulu apa itu kecerdasan. Vera menjelaskan, kecerdasan tak sebatas kecerdasan di sekolah yang terukur dari kemampuan anak dalam belajar membaca, berhitung, atau menggambar.

"Namun, lebih dari itu. Kecerdasan adalah kemampuan berpikir pada tingkatan yang lebih tinggi, yang mencakup pembentukan konsep, pemecahan masalah, kreativitas, memori, persepsi, dan masih banyak lagi," paparnya.

Ada sejumlah kemampuan kognitif atau kemampuan berpikir yang menggambarkan kecerdasan. Antara lain kemampuan untuk mengelompokkan pola, kemampuan memodifikasi perilaku agar lebih adaptif,kemampuan melakukan penalaran deduktif, kemampuan melakukan penalaran induktif, kemampuan mengembangkan konsep, dan kemampuan untuk memahami atau melihat keterkaitan pada sejumlah informasi.

Salah satu kemampuan yang sangat dikenal adalah kemampuan melakukan penalaran berpikir secaramatematis, seperti yang dimiliki Albert Einstein. Kecerdasan pada area ini dipercaya dapat mewakili kecerdasan pada area yang lain. Mengembangkan kecerdasan dalam melakukan kemampuan berpikir logis akan meningkatkan kecerdasan anak secara umum.

Meskipun sesungguhnya orangtua dapat mengembangkan berbagai kemampuan logika berpikir yang lain pada anak. Misalnya, logika berpikir dalam menganalisis masalah dalam sebuah cerita, dalam sebuah gambar atau balok,dalam sebuah gerakan tari atau senam, dalam sebuah irama lagu, dan masih banyak lagi.

"Kecerdasan merupakan kemampuan berpikir yang lebih advance. Untuk dapat meningkatkan kecerdasan anak, ayah pun perlu turut belajar memahami tahap perkembangan kemampuan berpikir pada setiap tahap usia anak," sebut psikolog yang berpraktik di Rumah Sakit Cengkareng, Jakarta Barat.

Selami kemampuan, apa yang sedang berkembang pada anaknya di usia tertentu. Dengan begitu, ayah dapat menentukan permainan dan kegiatan seperti apa yang dapat merangsang perkembangan kemampuan berpikir anak agar kecerdasannya tumbuh optimal.

Sumber: Mencerdaskan Anak, Ayah Pun Bisa Ikut Berperan