Tampilkan postingan dengan label budaya Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya Indonesia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Oktober 2009

Ulah Malaysia dan Ketidakpedulian Kita

Lagi-lagi kita tersentak! Malaysia mengusik rasa kepemilikan kita atas berbagai khazanah budaya yang sudah kita warisi secara turun-temurun. Kali ini,tari pendet Bali yang menjadi pemicunya.

Malaysia diyakini telah mengutil tarian itu dalam iklan Visit Malaysia Year 2009. Meski sudah ada permintaan maaf dari production house yang membuat iklan Enigmatic Malaysia itu, kita, kawan-kawan di Bali khususnya, telanjur sakit hati. Tak urung Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, yang notabene orang Bali, meradang dibuatnya. Budayawan Mohammad Sobari bahkan menyerukan diambilnya protes keras dan aksi diplomatik nyata oleh Pemerintah RI!

Benarkah Malaysia telah mengklaim tarian itu sebagai miliknya? Itu bukan hal yang ingin saya katakan. Biarlah kita tunggu pihak berwenang masing-masing mengklarifikasinya. Yang ingin saya ingatkan adalah bahwa salah satu akar masalah sesungguhnya ada pada diri kita sendiri sebagai bangsa yang tidak terlalu peduli dengan pemeliharaan aset kebudayaannya.

Angklung, reog ponorogo, batik, hombo batu, dan tari folaya adalah hanya beberapa ragam budaya yang sering disebut orang telah diklaim oleh Malaysia. Namun orang banyak yang lupa bahwa khazanah budaya dalam bentuk artefak kuno tulisan tangan atau yang dikenal sebagai naskah-naskah kuno (manuskrip), jauh lebih banyak yang telah berpindah tangan ke Malaysia.

Sebagai orang lapangan, saya tahu persis puluhan dan bahkan mungkin ratusan naskah kuno dari berbagai daerah seperti Aceh, Minangkabau, Riau, dan wilayah Melayu lainnya telah diborong oleh pembeli ilegal asal Malaysia. Saya katakan ilegal karena jual beli itu memang terjadi "di bawah tangan", tidak pernah terangterangan.

Maklum, menurut UU Cagar Budaya No 5 1992, naskah kuno termasuk benda yang harus dilindungi dan tidak boleh diperjualbelikan kecuali atas campur tangan negara. Namun, itu hanya teorinya. Mengapa Malaysia begitu kebelet dengan naskah-naskah kuno kita,khususnya yang berbahasa Melayu dan berkaitan dengan Islam, sampai berani membeli naskah-naskah kuno itu seharga ratusan juta rupiah?

Mungkin karena artefak semacam itu berkaitan dengan identitas kemelayuan dan keislaman. Nama-nama seperti Hamzah Fansuri, Bukhari al-Jawhari, Nuruddin al-Raniri, Syamsuddin al- Sumatra'i, Abdurrauf al-Sinkili, Syaikh Yusuf al-Makassari, Muhammad Arsyad al-Banjari, Abdussamad al-Palimbani,Raja Ali Haji adalah simbol-simbol kebesaran Melayu Islam masa lalu yang terekam dalam naskah-naskah kuno.

Semua nama itu berasal dari wilayah yang kini menjadi bagian dari Indonesia dan pernah menjadi poros utama peradaban Islam Melayu. Sekarang, tengoklah Perpustakaan Negara Malaysia (PNM) atau Muzeum Islam Malaysia atau berbagai koleksi pribadi, yang menyimpan puluhan ribu naskah Melayu Nusantara, niscaya nama-nama ulama kita itu akan mendominasi berbagai katalognya.

Bagi seorang filolog atau kodikolog, tidak susah juga mengidentifikasi dari mana asal naskahnaskah tersebut karena umumnya kolofon (catatan akhir) di belakang teks menyediakan informasi waktu dan tempat penyalinan serta identitas penyalinnya. Tentu saya tidak ingin mengatakan bahwa semua naskah itu diperoleh secara ilegal,tapi berbagai kasus di lapangan membuat saya miris.

Masyarakat kita sering "tidak kuat iman" melihat gepokan ratus juta rupiah untuk ditukar dengan naskah-naskah kuno miliknya. Namun, apa daya? Mereka dibiarkan oleh negara untuk merawat sendirian warisan nenek moyangnya itu, padahal perut mereka sering kelaparan. Giliran diusik, meradanglah kita ramairamai! Dalam hal ini, Malaysia jelas sangat ingin menjadi pusat bagi peradaban Melayu Islam di wilayah Asia Tenggara.

Tentu tidak salah! Masalahnya Malaysia memang tidak memiliki khazanah naskah Melayu sekaya kita, sama halnya dengan kenyataan bahwa Malaysia mungkin tidak memiliki tarian seindah tari pendet sehingga perlu "meminjamnya"dari Bali untuk promosi wisatanya. Celakanya, kita sebagai "pemilik sah" berbagai kebudayaan Melayu itu bermimpi pun mungkin tidak pernah untuk menjadi pusat peradaban Melayu!

Sebagai peneliti, saya dan kawan- kawan di kampus sering menggerutu saat sumber primer lokal yang sangat dibutuhkan tidak bisa dijumpai satu pun di negeri sendiri, kecuali di negeri orang. Kitab hadis Melayu pertama yang berjudul al-Fawa'id al-bahiyah fi al-ahadith al-nabawiyah karangan Nuruddin al-Raniri (wafat 1658) misalnya, sejauh ini tidak satu pun dijumpai di perpustakaanperpustakaan negeri ini.

Hanya ada satu di PNM Kuala Lumpur,tercatat dengan kode MS 1042! Padahal, kitab yang memuat 831 buah hadis sahih itu merupakan salah satu sumber primer pertama di bidang hadis dalam konteks sejarah Islam Melayu.Ah,siapa peduli?

Ketidakpedulian Kita
Mari coba bertanya, sejauh mana upaya yang sudah kita lakukan untuk melestarikan khazanah kebudayaan itu? Seperti yang budayawan Radhar Panca Dahana katakan, tidak banyak! Kita lebih sering merasa kebakaran jenggot saat orang lain dirasa mengusik "milik"kita. Kalau tidak, kita cuek-cuek saja.

"Hanya peduli pada olahraga dan program lainnya," katanya. Seiring perkembangan teknologi digital ini misalnya, salah satu tren pelestarian naskah-naskah kuno adalah melalui program digitalisasi. Sejak 2006, The British Library secara rutin mendanai sejumlah program digitalisasi naskah kuno koleksi masyarakat di Surabaya,Kerinci, Riau, Minangkabau, Aceh, Buton, dan Garut.

Begitu pula dengan Leipzig University. Sejak 2007 lalu, universitas di Jerman ini telah melakukan program restorasi dan digitalisasi naskah-naskah di Museum Aceh,Yayasan Ali Hasjmy, dan sejumlah koleksi masyarakat, bekerja sama dengan Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM).

Sudah ribuan naskah yang berhasil diselamatkan, setidaknya teks-teks digitalnya dan tentu saja sudah puluhan ribu halaman naskah yang ditambahkan pada koleksi perpustakaan asing semisal The British Library, tapi tidak selalu menjadi tambahan koleksi Perpustakaan Nasional karena institusi yang mewakili negara ini tidak terlibat, bahkan tahu ada program-program itu pun sering kali tidak!

Masih untung ada Puslitbang Lektur Keagamaan, Departemen Agama, yang kini banyak mengagendakan kegiatannya di bidang pelestarian naskah-naskah Nusantara, khususnya yang bernuansa keagamaan. Mestinya bukan Departemen Agama.

Setidaknya Departemen Budaya dan Pariwisata atau Perpustakaan Nasional menjadi lembaga negara terdepan menaungi kita semua. Jadi, layakkah kita merasa memiliki jika kita belum berpikir maksimal untuk menjaganya?(*)

Oman Fathurahman
Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa)

Sumber: Ulah Malaysia dan Ketidakpedulian Kita

Sabtu, 12 September 2009

Tari Pendet, Terima Kasih Malaysia

Pada saat Malaysia "merdeka" pada 31 Agustus 1957, kita bangsa Indonesia terkaget-kaget karena mereka telah memilih lagu kebangsaannya, sebuah lagu yang sangat populer dinyanyikan di banyak tempat di Indonesia pada masa itu.

Itu adalah sebuah lagu yang mendekati irama langgam keroncong dan terkenal dengan nama (judul) Terang Bulan Terang di Kali. Mencermati syairnya, isinya jauh sekali dari jargon-jargon kepahlawanan dan patriotisme seperti yang dibutuhkan dalam sebuah lagu kebangsaan pada umumnya.

Syairnya antara lain berbunyi: "Terang bulan terang di kali, buaya timbul disangka mati. Jangan percaya mulut lelaki, berani sumpah tetapi takut mati." Lagu yang sangat "jenaka". Pemerintah Indonesia saat itu sampai perlu untuk mengumumkan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tidak lagi menyanyikan lagu itu karena telah menjadi lagu kebangsaan negara tetangga kita Malaysia.

Itulah awal Indonesia "kehilangan" sesuatu pada saat negara Malaysia berdiri. Ternyata kehilangan tersebut berlanjut terus. Minggu ini, Indonesia dihebohkan lagi dengan munculnya klaim Malaysia atas tari pendet setelah sebelumnya mengklaim angklung, reog ponorogo, batik, dan beberapa lainnya.

Pada waktu lagu Terang Bulan Terang di Kali diambil Malaysia untuk lagu kebangsaannya, mungkin kita semua tersenyum geli dan kemudian merelakannya karena merasa kasihan, untuk lagu kebangsaan saja kok memilih lagu itu?

Kita pun menghormatinya dan kemudian menghentikan menyanyikan lagu tersebut. Sirnalah lagu Terang Bulan Terang di Kali dari Bumi Pertiwi. Tidak demikian yang terjadi berikutnya, yaitu tentang batik, angklung, reog ponorogo, dan terakhir tari pendet. Kita semua "marah". Pantaskah kita marah?


Sebelum telanjur mengumbar kemarahan, marilah kita melihat ke belakang sejenak. Pada saat 1950-an dan awal 1960-an, kita mengenal yang namanya Kementerian Pendidikan Dasar dan Kebudayaan. Dikenal dengan nama Kementrian P dan K. Saya masih ingat, konon salah satu menteri yang terkenal di posisi itu adalah Prof Dr Prijono.

Mungkin karena namanya Pendidikan dan Kebudayaan, masuklah banyak unsur kebudayaan ke dalam program pendidikan saat itu. Terutama tentu saja di pendidikan dasar. Di Sekolah Rakyat--yang sekarang dikenal dengan SD--dan di SMP, para murid dikenalkan dengan banyak pelajaran kesenian seperti menyanyi, menari, menggambar, main angklung.

Lomba antarsekolah juga diselenggarakan secara berkala. Anak-anak merasa sangat senang mengikuti kegiatan ini. Beberapa perlombaan menyanyi atau paduan suara sekolah dan solo dilombakan dan babak akhirnya dilaksanakan di Gedung Kesenian Jakarta yang terletak di dekat Pasar Baru.

Demikian pula dengan angklung dan menari. Di saat yang sama, dikenal pula kelompok paduan suara yang bagus, pimpinan Gordon Tobing.Gordon Tobing memainkan gitar akustik dan kelompoknya menyanyikan lagu-lagu rakyat Indonesia keluarga semisal lagu Rasa Sayange. Lagu-lagu ini sering sekali disiarkan melalui RRI Jakarta.

Dalam beberapa upacara kenegaraan dan dalam kesempatan menerima tamu negara, yang selalu muncul adalah paduan suara Gordon Tobing dengan lagu-lagu rakyatnya, juga tari-tari Bali seperti tari pendet. Gemanya tersiar ke seluruh negeri, antara lain melalui media massa, termasuk RRI.

Di banyak kesempatan peristiwa besar seperti Konferensi Asia Afrika, Asian Games, Conference of The New Emerging Forces (Conefo), dan kehadiran tamu negara, lagu-lagu rakyat Indonesia, tarian-tarian daerah Indonesia, angklung, reog ponorogo, bahkan kampanye nasional penggunaan batik selalu hadir di tengah-tengah kegiatan tersebut.

Itu milik kita dan selalu hadir di tengah-tengah kita dengan penuh kebanggaan, pada waktu itu. Kelompok paduan suara Gordon Tobing bahkan pernah melanglang buana sampai ke Eropa membawakan lagu-lagu sejenis Rasa Sayange. Saat 17 Agustusan, hampir semua sekolah di Jakarta mengirimkan murid-muridnya memenuhi halaman Istana Merdeka untuk bernyanyi lagu-lagu perjuangan. Bukan hanya sedikit perwakilan saja seperti belakangan ini.


Sekarang ini, bila melihat bidang pendidikan, anak-anak sekarang kemungkinan besar belum pernah memegang angklung di sekolahnya, apalagi memainkannya. Lagu-lagu? Mungkin mereka kebanyakan lebih mengenal Michael Jackson.

Perlombaan paduan suara antarsekolah dengan lagu Indonesia nyaris tidak pernah diketahui, diselenggarakan atau tidak? Media televisi lebih disibukkan dengan berita tentang teroris dan penyelenggaraan kuis bertemu jodoh serta berbagai jenis kuis berhadiah yang menjurus ke perjudian.

Lebih parah lagi, sebagaimana pernah dikatakan Permadi di televisi, bila menonton televisi di Indonesia, hampir selama 24 jam kita selalu disuguhi berita tentang tawuran di mana-mana. Di antaranya kisruh tentang pilkada, mahasiswa dan pelajar berkelahi. Sama sekali tidak ada ketenteraman, apalagi berharap menonton reog ponorogo, permainan angklung, batik, dan sebagainya.

Jauh panggang dari api. Generasi muda sibuk dengan Valentine Day dan membentuk kelompok fans MU di mana-mana. Melihat semua ini, Malaysia yang sangat jeli melihat peluang pariwisata yang dapat dijual dengan barang budaya memanfaatkan kondisi ini. Menyadari bahwa mereka tidak memiliki apa-apa yang pantas untuk dijual, Malaysia pun kemudian dengan cerdas mengidentikkan dirinya dengan "Asia", Malaysia Truly Asia, katanya.

Maka diambillah dengan sistematis barang-barang budaya Indonesia bernilai tinggi yang sepertinya sudah tidak digunakan lagi oleh si empunya. Satu per satu digulirkan dengan cerdas, mulai dari batik, wayang, Rasa Sayange, dan seterusnya sampai dengan tari pendet.

Seolah mereka tahu, Indonesia akan marah, tapi sebentar saja setelah itu lupa, kemudian mulai lagi dengan lainnya dan seterusnya. Toh, pikir mereka, sekali lagi sang empunya sudah tidak berselera lagi untuk menggunakannya. Nah, pantaskah kita kemudian marah? Marah, berdasarkan pengalaman, sama sekali tidak menghasilkan apa-apa. Berintrospeksi mungkin akan sangat berguna bagi kita semua.

Terkaget-kaget kita melihat satu per satu karya seni bernilai tinggi milik kita diklaim Malaysia. Namun, mungkin kita justru perlu berterima kasih kepada Malaysia yang telah mengingatkan kita kembali akan karya seni kita yang sangat tinggi nilainya itu yang tengah dan telah kita lupakan bersama.

Kearifan berpikir dibutuhkan sebelum kita mengambil keputusan untuk melangkah. Kita tidak menyadari karya seni yang kita miliki ternyata bernilai tinggi sampai Malaysia harus bersusah payah membuktikannya terlebih dahulu. Sungguh menyedihkan!

Chappy Hakim 
Chairman Indset

Sumber: Tari Pendet, Terima Kasih Malaysia