Menapaki 80 tahun peringatan Hari Sumpah Pemuda di tahun ini, semakin banyak pihak yang menyuarakan pentingnya memberikan kesempatan bagi para pemuda Indonesia untuk tampil menjadi pemimpin bangsa. Mereka berharap para pemuda dapat ambil bagian dalam menentukan arah bangsa di masa depan dengan menjadi pemimpin yang progresif dan independen. Ditambah lagi dengan masih kentalnya semangat juang serta idealisme yang dimiliki para pemuda, yang mencirikan insan yang peduli pada perbaikan kondisi bangsa. Hal tersebut didukung dengan semakin dekatnya pelaksanaan pemilu legislatif dan pemilihan presiden di tahun 2009, sehingga momen pemilu mendatang diharapkan dapat menjadi ajang bagi tampilnya pemimpin muda bagi Indonesia.
Sejarah sendiri telah mencatat, bahwa perjalanan bangsa ini tidak pernah terlepas dari peran pemuda di dalamnya. Mulai dari zaman penggalangan kekuatan dalam melawan penjajah yang dipelopori berdirinya Budi Utomo, ikrar Sumpah Pemuda, semasa kemerdekaan, hingga digulingkannya rezim Orde Baru dan memasuki era reformasi sekarang ini, semuanya menempatkan pemuda sebagai bagian penting peristiwa tersebut.
Isi Sumpah Pemuda yang diikrarkan delapan dekade yang lalu harus terus digelorakan pada setiap pemuda-pemudi di tanah air. Bahwa setiap Warga Negara Indonesia memiliki satu tanah air, satu bahasa, dan satu bangsa, yakni Indonesia.
Konflik-konflik yang terjadi di berbagai belahan bumi pertiwi tidak boleh dibiarkan keberlangsungannya. Perbedaan pendapat yang muncul di antara elemen bangsa jangan sampai menciptakan disintegrasi yang dapat mengancam keutuhan NKRI.
Dengan potensi alam yang sangat melimpah serta SDM yang besar, Indonesia harus dapat bangkit dari segala bentuk keterpurukan yang menerpa. Setiap pemuda Indonesia dapat menjalankan peranannya masing-masing—sekecil apapun—sebagai usaha untuk mempercepat kebangkitan negeri ini, seperti yang telah seabad lalu dikumandangkan oleh Budi Utomo.
Kesempatan bagi Indonesia untuk tampil sebagai negara besar dan diperhitungkan dalam kancah global akan tetap terbuka selama tiap elemen bangsa tetap menjaga keutuhan bangsa serta memberikan sumbangsihnya dengan penuh semangat dan tentunya tetap menyertakan peran penting pemuda di dalamnya. Yakinlah, bahwa negeri ini bisa bangkit karena harapan itu masih ada dalam dada setiap anak negeri di seluruh belahan bumi pertiwi!
sebuah kawasan DPR [Daerah Pinggir Rel] tempatku lahir, tumbuh, dan mengekspresikan diri...
Tampilkan postingan dengan label bangkit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bangkit. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 18 Juli 2009
Bangkitlah Negeriku, Harapan Itu Masih Ada
Label:
bangkit,
Indonesia,
pemuda,
suara mahasiswa,
sumpah pemuda
Kamis, 16 Juli 2009
Momen untuk Bangkit dari Keterpurukan
Di usianya yang menginjak angka 63 pada tahun ini (2008), Indonesia masih dihadapkan dengan beragam persoalan yang tak kunjung henti. Persoalan-persoalan tersebut bertubi-tubi menghampiri bangsa kita silih berganti. Mulai dari masalah ekonomi, seperti krisis yang belum berakhir, kenaikan harga minyak dunia yang berefek pada melonjaknya harga BBM dan sembako di dalam negeri, sampai kelangkaan minyak tanah di berbagai daerah. Belum lagi bencana Lumpur Lapindo yang belum terlihat ujung pangkal dan penyelesaiannya yang menguntungkan korban dan warga sekitar yang terkena luapan.
Dalam kehidupan bernegara, tindak-tanduk para pemimpin yang semakin semena-mena, korupsi yang terus merajalela sampai makin gencarnya aksi mafia peradilan membuat rakyat terus menjadi korban terhadap perilaku minus mereka. Semua masalah tersebut memang membuat Indonesia semakin terpuruk sebagai sebuah bangsa dalam kancah global.
Namun, semuanya masih dapat diatasi dengan keyakinan penuh bahwa Indonesia bisa bangkit dari segala keterpurukan yang menghadang. Momen peringatan hari kemerdekaan yang ke-63 dan seabad kebangkitan nasional dapat dijadikan modal dasar bagi kita untuk berubah menjadi bangsa yang lebih bermartabat.
Kita patut melakukan kilas balik terhadap perjalanan bangsa ini dalam meraih kemerdekaan. Para pahlawan dengan penuh keikhlasan mengorbankan jiwa dan raga demi tercapainya Indonesia yang merdeka. Mereka mengenyampingkan ego pribadi dan tetap mendahulukan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan mereka walaupun nyawa menjadi taruhannya.
Sudah selayaknyalah para pemegang pucuk kepemimpinan di Indonesia untuk berkaca terhadap semangat dan keikhlasan para pahlawan kemerdekaan. Mereka seharusnya mengambil pelajaran berharga dengan tidak melakukan korupsi untuk memperkaya diri atau selalu mengakomodir dan menomorsatukan kepentingan golongan atau partainya dengan mengabaikan kebutuhan dari rakyat yang memilih mereka.
Semoga dengan momen tersebut, para pemimpin negeri ini tersadar untuk kembali memperbaiki niatnya dalam berjuang merealisasikan janji-janjinya di masa kampanye untuk bisa menyejahterakan rakyat yang dipimpinnya...
Dalam kehidupan bernegara, tindak-tanduk para pemimpin yang semakin semena-mena, korupsi yang terus merajalela sampai makin gencarnya aksi mafia peradilan membuat rakyat terus menjadi korban terhadap perilaku minus mereka. Semua masalah tersebut memang membuat Indonesia semakin terpuruk sebagai sebuah bangsa dalam kancah global.
Namun, semuanya masih dapat diatasi dengan keyakinan penuh bahwa Indonesia bisa bangkit dari segala keterpurukan yang menghadang. Momen peringatan hari kemerdekaan yang ke-63 dan seabad kebangkitan nasional dapat dijadikan modal dasar bagi kita untuk berubah menjadi bangsa yang lebih bermartabat.
Kita patut melakukan kilas balik terhadap perjalanan bangsa ini dalam meraih kemerdekaan. Para pahlawan dengan penuh keikhlasan mengorbankan jiwa dan raga demi tercapainya Indonesia yang merdeka. Mereka mengenyampingkan ego pribadi dan tetap mendahulukan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan mereka walaupun nyawa menjadi taruhannya.
Sudah selayaknyalah para pemegang pucuk kepemimpinan di Indonesia untuk berkaca terhadap semangat dan keikhlasan para pahlawan kemerdekaan. Mereka seharusnya mengambil pelajaran berharga dengan tidak melakukan korupsi untuk memperkaya diri atau selalu mengakomodir dan menomorsatukan kepentingan golongan atau partainya dengan mengabaikan kebutuhan dari rakyat yang memilih mereka.
Semoga dengan momen tersebut, para pemimpin negeri ini tersadar untuk kembali memperbaiki niatnya dalam berjuang merealisasikan janji-janjinya di masa kampanye untuk bisa menyejahterakan rakyat yang dipimpinnya...
Label:
bangkit,
Indonesia,
refleksi,
suara mahasiswa
Langganan:
Postingan (Atom)