Rabu, 19 Agustus 2009

Puasa Membentuk Pribadi

Ada tiga unsur yang melengkapi diri kita sehingga kita dapat hidup sebagai pribadi. Ketiga unsur itu menentukan hidup dan kehidupan kita lebih lanjut. Ketiganya adalah hati, otak (akal), dan jasmani.

Otak mampu menciptakan konsep-konsep atau keinginan-keinginan untuk mencapai sesuatu. Otak juga dapat menciptakan hal-hal yang baru sama sekali, seperti produk-produk iptek (barang-barang elektronik canggih, bahkan bom/peralatan nuklir).

Sedangkan hati menyaring apa yang patut atau tidak patut dikerjakan. Kalau hati seseorang baik (bersih), tentu dapat memberi arah apa yang seyogianya otak ciptakan. Tetapi kalau hatinya tidak bersih (hitam), maka dapat saja otak tersebut bekerja semaunya, menciptakan apa saja yang dikehendakinya, tidak peduli apakah baik atau buruk, apakah akan membinasakan atau menyelamatkan umat manusia. Jelas orang yang seperti ini berbahaya, karena ia dapat melakukan hal-hal seperti dikemukakan tadi. Yang pokok, keinginannya tercapai.

Sementara peran jasmani adalah melaksanakan apa yang telah dikehendaki oleh otak dan hati. Ia bekerja, kalau sudah ada perintah dari otak dan hati. Jasmani tidak berpikir, ia hanya bekerja setelah menerima petunjuk. Yang pokok, jasmani perlu dirawat dan dilatih agar senantiasa berada dalam keadaan sehat, sehingga dapat berfungsi. Bahkan unsur jasmani ini turut menentukan, karena meskipun otak dan hati telah melahirkan suatu gagasan yang cukup ideal, namun tidak akan dapat direalisasikan apabila jasmani tidak berdaya.

Di sinilah betapa besar peran ibadah puasa dalam pembentukan pribadi. Perannya ialah berusaha menyehatkan ketiga unsur tadi sekaligus. Ia membersihkan hati melalui peningkatan ibadah (di samping berpuasa, juga salat, termasuk salat tarawih, dan berlatih diri menahan hawa nafsu yang cenderung ke perbuatan-perbuatan tercela) yang akhirnya berpengaruh pula pada cara berpikir. Orang yang beriman (bertakwa) dan yang bersih hatinya, biasanya pemikirannya pun jernih dan selalu berusaha menghindari perbuatan maksiat.

Sedangkan orang yang berpuasa, akan terawat (terpelihara) kesehatannya, karena sesuai dengan keterangan para dokter, puasa dapat menyembuhkan, setidak-tidaknya mengurangi penyakit tekanan darah tinggi, jantung, lambung, dan lain-lain. Jadi, puasa sekaligus berusaha menyehatkan rohani, pemikiran dan jasmani, sehingga gagasan-gagasan yang diciptakan oleh orang yang berpuasa selalu jernih dan selalu pula memperhatikan kepentingan umat (orang banyak). Oleh karena itu, puasa sangat bermanfaat bagi para pemimpin.

Sumber: Puasa Membentuk Pribadi

Puasa Ramadhan

Seorang muslim yang baik pasti akan mengharap ampunan dari Allah SWT. Untuk mendapatkannya, sebenarnya, bukanlah perkara yang sulit, namun tidak semua orang berhasil menjangkaunya. Ini karena tidak sedikit orang yang mau dan mampu memenuhi syaratnya. Sebagai misal, tak jarang orang yang masih merasa keberatan untuk menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Padahal, seperti disabdakan Nabi Muhammad SAW, Allah mengampuni dosa-dosa orang yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan kesadarannya.

Puasa Ramadhan sendiri sebenarnya bukan hanya menghapuskan dosa-dosa, tapi juga sangat bermanfaat untuk kesehatan jasmani dan rohani. Suatu hari pernah seorang laki-laki yang menderita penyakit psikosomatik sejak beberapa tahun, datang kepada saya. Ia mengaku telah berobat ke beberapa dokter di dalam dan luar negeri, namun penyakitnya tak kunjung sembuh. Saya lalu menyarankannya untuk rajin shalat dan menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Beberapa pekan kemudian ia datang lagi kepada saya dan menyatakan telah sembuh, tidurnya nyenyak dan perasaannya lebih enak. Ia juga melaporkan, selalu menjalankan shalat dan berpuasa Ramadhan, meski sebenarnya dokternya melarang berpuasa. Ia lalu berkata kepada saya, ''Rupanya saya sedang dalam perjalanan.'' ''Perjalanan ke mana?'' tanya saya. ''Ke pengampunan Tuhan,'' jawabnya riang. Ia benar-benar sembuh dari penyakitnya lantaran rajin shalat dan puasa Ramadhan.

Sebuah kasus menarik lain terjadi pada seorang ibu yang cukup berpendidikan. Ia melarang anaknya yang masih kelas dua SD untuk berpuasa Ramadhan, karena khawatir anaknya yang masih kecil akan jatuh sakit. Namun anaknya berkeras lantaran teman-temannya banyak yang melakukannya. Akhirnya wanita itu membiarkan anaknya berpuasa, sementara ia datang ke seorang dokter yang taat beragama untuk berkonsultasi mengenai anaknya.

Secara sederhana dokter menjelaskan, bahwa anak yang lebih kecil dari anak wanita itu pun sudah banyak yang berpuasa dan tidak sakit. Terlepas dari penjelasan dokter, di desa-desa Islami banyak anak-anak usia enam tahunan yang sudah menjalankan puasa. Dan jarang terdengar ada anak yang sakit lantaran berpuasa. Yang jelas, bila kita sudah membiasakan anak berpuasa sejak dini, berarti anak-anak sudah mulai latihan menjalankan ajaran agama. Sehingga bila mereka tumbuh remaja dan kemudian dewasa, mereka tak akan merasa berat menjalankan ajaran agamanya.

Sumber: Puasa Ramadhan

Rendra Tertarik dengan Alquran

Penyair adalah jalan hidup. Baik sedang berkarya atau tidak. Seorang penyair masuk dalam konteks realitas karena kepedulian akan panggilan kharismatik dari alam sekitarnya, dari debu, kerikil, lava, angin, pohon, kupu-kupu, margasatwa. Dari yatim piatu, orang-orang papa, lingkungan kampung halamannya, lingkungan bangsanya, lingkungan kemanusiaannya. Ia harus selalu peduli. Tetapi tidak cukup cuma peduli, karena harus dikaitkan dengan perintah dan larangan Allah. Apa pun, termasuk bersyair, harus menjadi ruang ibadah. Harus mengaitkan dengan kehendak Allah. Kita buat, misalnya, sajak mengenai pelacur, mengenai singkong, atau mengenai perahu. Itu juga religius selama dikaitkan dengan meraih kehendak Allah.

Kalimat di atas adalah sepenggal dari pendermaan buah pikir seniman terbaik tahun 60-an, WS Rendra. Baginya, proses kreatif dalam menulis sebuah karya sastra adalah misteri. Dia mengatakan waktu untuk menulis dalam kehidupan hanya 2-3 persen. Beberapa jam selesai. Selebihnya menyiapkan diri untuk hidup secara kreatif, menjaga daya cipta, dan daya hidup.

Si burung merak ini adalah seorang penderma pikiran yang tidak pernah menangis tatkala menghadapi kekuasaan politik. Dia sempat dijebloskan ke penjara pada 1978, dan mendapat represi pelarangan tampil di berbagai tempat.

"Saya menangis untuk masalah-masalah lain. Dulu saya pernah diminta membaca sebuah sajak. Lalu ada rekan mahasiswa yang menangis, terharu. Saya pun ikut menangis. Saya juga gampang menangis kalau membaca riwayat Nabi Muhammad. Indah sekali. Membayangkan pengorbanan Nabi yang tidak mementingkan diri sendiri. Tidak ada agama Islam, kalau tidak ada Nabi. Saya juga menangis kalau mengenangkan Asmaul Husna," tutur Rendra saat diwawancara wartawan Republika, Iman Yuniarto F, di kediamannya pada Oktober 2006.

Cahaya Islam dalam Karya Sastra Rendra
Sejak masuk Islam, Rendra mengganti namanya menjadi Wahyu Sulaiman Rendra. Rendra mengaku tahu alasan kenapa dia tertarik dengan Islam, tetapi dia sendiri tidak mengerti mengapa memutuskan masuk Islam. "Saya sebetulnya takut sekali terhadap masyarakat Islam. Tapi saya sudah lama tertarik kepada Alquran. Lihat saja. Apa ada kitab suci yang menjelaskan konsep ketuhanannya dalam kalimat yang singkat seperti Alquran?" tanyanya.

Sewaktu Rendra kuliah di Amerika Serikat (kuliah teater), saat itu sedang populer-populernya filsafat eksistensialisme. Kemudian, dia membaca kalimat, "Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian." Rendra terkesan.

Menurutnya, tidak ada kitab suci yang mengatakan bahwa manusia akan selalu merugi dalam perkara waktu. "Lihat. Apa pun bisa kita budayakan, termasuk ruang. Tetapi kita tidak bisa membudayakan waktu. Apa bisa kita menghentikan hari? Dengan teknologi setinggi apa pun, magic setinggi apapun, tidak bisa kita membuat hari Rabu menjadi Kamis. Termasuk saya, tidak bisa menolak kelahiran saya. Saya tidak bisa memilih untuk lahir pada abad ke-22 atau lahir zaman Majapahit," jelasnya.

Menurut Alquran, kita akan selalu merugi soal waktu. Tapi, Alquran juga menyodorkan solusi. Disebutkan hanya orang-orang tertentu yang akan selamat. Yakni yang beriman, beramal saleh, saling berwasiat dalam kesabaran dan kebenaran. Alquran tidak menyebut yang selamat adalah orang yang Islam, orang yang kaya, orang yang pintar atau orang yang sehat.

Ketika ditanya hubungan antara Islam dan karya sastranya, Rendra menjawab, "Intinya kita berwasiat dalam kebenaran. Mudahan-mudahan."

Sumber: Rendra Tertarik dengan Alquran

Nama "Muhammad" Paling Diidolakan di Belanda

AMSTERDAM--Nama "Muhammad" dan variasinya, Mohammed dan Muhammed, merupakan nama yang saat ini paling digemari untuk diberikan kepada anak-anak di Negeri Belanda. Paling tidak, nama ini menempati urutan-urutan atas di empat kota besar--Amsterdam, Rotterdam, Hague, dan Utrech. Sementara di tingkat nasional, nama Nabi Muhammad ini menempati urutan kedua puluh teratas. Demikian sebagaimana data dari Sociale Verzekeringsbank (SVB, Keamanan Nasional Belanda).

Di Amsterdam, ibukota, nama Mohamed dan Mohammed, sangat populer dan menempati urutan pertama dan keempat. Disusul nama Rayan, Adam, dan Max dengan selisih sangat jauh. Di Rotterdam, Jayden menjadi nama yang paling digemari oleh para orangtua. Namun, jika ketiga variasi nama Muhammad digabungkan, hasilya melampaui nama Jayden.

Di Hague, nama Muhammad dan kedua variasinya bahkan menduduki peringkat pertama, kedua, dan kelima dalam lima besar nama paling populer. Nama ini diberikan tiga kali lebih sering daripada nama lain yang juga populer, yaitu Jayden, di tahun 2008 lalu.

Di Utrech, kota keempat terbesar di Belanda, Mohammed juga berada di urutan pertama, diikuti oleh Adam, Lucas, Stijn dan Daan.

Nama ini dulu tidak masuk dua puluh besar secara nasional, namun ini lebih disebabkan oleh berbagai ejaan yang digunakan untuk nama tersebut. Jika semua variasi populer nama tersebut dijadikan satu, maka nama Nabi ini akan menempati urutan ke-16, persis setelah nama Luuk dan di atas nama-nama tradisional Belanda seperti Gjis dan Jan.

Dalam perhitungan pemerintahan terdahulu, variasi nama Mohamed, yang dihitung secara terpisah, tidak dimasukkan ke daftar 20 nama bayi paling favorit untuk menghindari kontroversi.

Sementara untuk anak perempuan, nama yang paling populer adalah Sarah, yang juga populer di kalangan Muslim, disusul oleh Emma dan Sophie. Secara nasional, Sarah menempati posisi ke-14.

Isu kepopuleran nama Islami ini kembali hangat dibicarakan setelah anggota parlemen Geert Wilder dan Sietse Fritsma (PVV) mengajukan 27 pertanyaan dalam sidang parlemen terkait sebuah laporan Daily Telegraph yang menyebutkan "pada tahun 2050, 20% penduduk Eropa adalah Muslim".

Pertanyaan mengenai tingkat "imigrasi non-Barat" dan dampaknya terhadap masyarakat Belanda tersebut akan dibahas pada sidang parlemen, Jumat mendatang (21/8). Salah satu pertanyaan yang akan dibahas tersebut adalah "Apa nama anak yang paling populer di empat kota besar dan secara nasional, merujuk pada tingginya angka kelahiran di kalangan imigran Muslim."

Sumber: Nama "Muhammad" Paling Diidolakan di Belanda

Cadar dan Dakwah

Hari ini, ada dua kekonyolan terjadi di Tanah Air. Pertama, adanya 'perintah' bagi polisi untuk memeriksa wanita bercadar terkait gembong teroris yang sedang diburu, Noordin M Top. Kedua, masih terkait perburuan Noordin, polisi menciduk kelompok pendakwah di Masjid Nurul Huda, Desa Sida Kangen, Kec Kalimanah, Purbalingga. Sebagai bagian dari upaya pemberantasan gerakan terorisme di Indonesia, polisi pun melakukan segala cara untuk mengejar sang gembong.

Untuk yang pertama, kecurigaan terhadap para pemakai cadar berawal dari seringnya tersangka Ibrohim--florist Hotel Marriott yang tewas di Temanggung--menerima tamu orang-orang bercadar di rumahnya. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa Noordin sering kali mengenakan cadar, terutama pada siang hari.

Karena latar belakang itu, ada alasan bagi polisi untuk memeriksa orang-orang bercadar. Kapolres Bekasi, misalnya, telah menyiapkan polisi wanita (polwan) untuk memeriksa orang-orang bercadar yang ada di wilayah itu. Memang, polisi berdalih hanya orang-orang bercadar yang dicurigai yang akan diperiksa.

Wakadiv Humas Mabes Polri, Brigjen Pol Sulistyo Ishak, membantah ada instruksi pemeriksaan orang-orang bercadar. Ia hanya mengatakan jika ada yang dicurigai terkait dengan aktivitas terorisme, baru diperiksa. Terhadap sesuatu yang mencurigakan, polisi langsung memeriksa, seperti yang terjadi pada rombongan Jamaah Tabligh di Purbalingga. Kelompok yang memang aktivitasnya berdakwah dari satu masjid ke masjid lain, ikut tersisir operasi pemberantasan teroris. Persoalannya, curiga seperti apa? Apa mungkin kelompok teroris bekerja secara terbuka dan berdialog dengan banyak orang di tempat umum?

Inilah yang kita sebut sebagai sebuah kekonyolan. Polisi, secara tidak langsung, telah membuat stigmatisasi terhadap orang-orang bercadar, brewok, dan kelompok orang yang berdakwah. Mereka seolah-olah bagian dari gerakan terorisme yang dikomandani Noordin M Top.

Jika upaya-upaya itu terus dilakukan, polisi tidak hanya melanggar hak asasi manusia (HAM), tetapi juga menodai sila pertama Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa. Kaum beragama menjadi tidak tenang melakukan kegiatan dakwahnya. Polisi juga melanggar HAM dan Konvensi Jenewa tentang hak-hak individu yang memilih mengenakan cadar menjadi tidak nyaman dan aman. Polisi harus membedakan mana kegiatan dakwah yang terbuka dan aktivitas teroris yang diam-diam.

Polisi juga harus bisa menjelaskan secara empiris dan rasional, apa kaitan orang bercadar dengan Noordin M Top. Jika hanya berdasarkan asumsi-asumsi, kekeliruan seperti penyerbuan di Temanggung yang disebut-sebut ada Noordin di dalamnya akan terus terjadi.

Jelas, kita mendukung pemberantasan terorisme yang terus menjadi hantu di negeri ini. Tetapi, kita tidak ingin pemberantasan itu menginjak-injak harga diri orang, mempermalukan orang, melanggar hak asasinya, dan mengobok-obok kegiatan dakwahnya. Kita ingin polisi bekerja secara profesional, tidak main tangkap, dan menjunjung tinggi hak-hak individu untuk mengekspresikan dirinya.

Sumber: Cadar dan Dakwah